KRISNA KUSUMA WARDANI
CGP ANGKATAN 4 KABUPATEN PASURUAN
Fasilitator: DEVI ESISNA
Pendamping Praktik: ANNA MUSSANATUL
AZIZAH
Pembelajaran berdiferensiasi adalah
usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas dengan kebutuhan belajar
individu setiap murid. (Tomlinson, 2.000)
Pembelajaran berdiferensiasi adalah
serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang
berorientasi pada kebutuhan murid.
Cara penerapan pembelajaran
berdiferensiasi di kelas yaitu:
1. Dengan
menganalisis kebutuhan belajar siswa dengan melakukan asesment diagnostik
(kognitif dan non kognitif) yang didasarkan pada 3 aspek yaitu kesiapan belajar
(cepat-lambat, konkret-abstrak), minat murid (mencari kecocokan anatara minat
murid dengan tujuan pembelajaran, menunjukkan koneksi antar materi
pembelajaran, menjembatani pengetahuan awal dengan pengetahuan yang baru, memungkinkan
tumbuhnya motivasi murid untuk belajar) dan profil belajar peserta didik (gaya,
kecerdasan, latar belakang).
2. Dengan
menerapkan 3 strategi diferensiasi dalam pembelajaran yaitu diferensiasi konten
(pengetahuan, keterampilan), diferensiasi proses (ragam, tahap, jalur), dan diferensiasi
produk (kesempatan demonstrasi pemahaman).
3. Dengan
menyusun RPP berdiferensiasi yang di dalamnya memuat langkah pembelajaran yang
telah disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan memuat strategi diferensiasi.
Pembelajaran berdiferensiasi dapat
memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang
optimal karena:
1. Pembelajaran
berdiferensiasi adalah bersifat proaktif.
2. Pembelajaran
berdiferensiasi lebih bersifat kualitatif dari pada kuantitatif.
3. Pembelajaran
berdiferensiasi berakar pada penilaian.
4. Pembelajaran
berdiferensiasi menggunakan beberapa pendekatan terhadap konten, proses, dan
produk.
5. Pembelajaran
berdiferensiasi berpusat pada murid.
6. Pembelajaran
berdiferensiasi merupakan perpaduan dari pembelajaran seluruh kelas, kelompo
dan individual.
7. Pembelajaran
berdiferensiasi bersifat “organik” dan dinamis.
Pembelajaran berdiferensiasi
sangat erat kaitannya dengan pembelajaran yang terdapat pada modul 1 tentang
filosofi Ki Hajar Dewantara, nilai dan peran Guru Penggerak, Visi guru
penggerak dan juga budaya positif.
Kaitannya dengan
Filosofi Ki Hajar Dewantara
Menurut Ki Hajar
Dewantara, pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang dimiliki oleh anak
agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Guru bertugas mengembangkan potensi yang dimiliki oleh siswa yang telah disesuaikan
dengan kodratnya. Merdeka belajar itu berarti merdeka atas diri sendiri. Minat
dan bakat siswa harus merdeka untuk berkembang seluas mungkin. Konsep tersebut
yang dibawa Ki Hajar Dewantara bagi bangsa ini dengan harapan tak digerus
perkembangan zaman. Serta menjadi cetak biru dalam membangun pendidikan
Indonesia.
Kaitannya
dengan Nilai dan peran Guru Penggerak
Pembelajaran
berdiferensiasi dapat terwujud apabila seseorang telah memiliki nilai guru
penggerak dan telah menjalankan perannya sebagai guru penggerak dengan baik.
Guru menghargai dan mendorong potensi yang dimiliki murid, guru harus bisa
melihat keberagaman (tingkat intelektual, bakat, potensi, minat, motivasi
belajar, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan
belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan lingkungan murid) yang
dimiliki murid itu sendiri.
Kaitannya
dengan Visi Guru Penggerak
Pembelajaran
berdiferensiasi dapat membentuk profil pelajar pabcasila sesuai dengan visi
guru penggerak dan sekolah yang dibangun berdasarkan pemetaan kekuatan internal
dan eksternal melalui sebuah konsep pendekatan inkuiri apresiatif (IA) yang
dilalui dengan tahapan BAGJA.
Kaitannya
dengan Budaya Positif
Dalam
menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas diperlukan suatu lingkungan
belajar yang aman, nyaman dimana terdapat suatu budaya positif di kelas
tersebut.
Luar biasa bunda. Tetap semangat
BalasHapus